Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Mustijat Priyambodo dan dr Tutik Purwanti. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Mustijat Priyambodo dan dr Tutik Purwanti. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)



Pasutri Barno (70) dan Sumini (70) meregang nyawa di tangan tetangganya, Matal (52), Jumat (16/11/18) lalu. Banyak orang menduga Matal mengalami gangguan jiwa saat melakukan aksinya membantai pasangan Barno dan Sumini.
Pasalnya, Matal melakukan aksinya dengan sadis dan disaksikan banyak orang.

Namun, benarkah Matal mengalami gangguan kejiwaan seperti anggapan sebagian warga?
Hal itu butuh pendekatan oleh ahli kejiwaan untuk menentukan status kejiwaan sang jagal. 

Setelah ditangkap pada hari yang sama, Matal bisa berkomunikasi layaknya orang normal. Matal juga mengakui telah melakukan aksi keji itu. "Masih bisa diajak bicara dan mengakui (pembunuhan yang dilakukan)," ujar Kapolres Tulungagung melalui Kasat Reskrim AKP Mustijat Priyambodo.

Untuk memastikan kejiwaan pelaku, pihaknya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan melibatkan ahli kejiwaan. "Apakah (Matal) mengalami gangguan kejiwaan atau tidak menunggu pemeriksaan ahli kejiwaan," ucap pria ramah itu.

Motif pelaku sendiri melakukan aksi kejinya lantaran korban tidak kooperatif saat ditagih sesuatu oleh pelaku. Namun, korban merasa tidak tahu tentang barang Yang ditagihkan pada korban. "(Matal) menagih sesuatu yang korban tidak tahu," tandas kasat reskrim.

Untuk mendalami motif pelaku, pihak kepolisian terus melakukan pemeriksaan terhadap pria yang mencari nafkah sebagai penjual jajanan pentol itu.
Aksi keji Matal terlihat dari banyaknya luka bacokan di tubuh korban. Puluhan luka bacok ditemukan di ubuh kedua korbanya.

"Di tubuh mayat pria (Barno) ditemukan 24 luka bacokan. Sedangkan di mayat wanita (Sumini) ada 16 luka bacokan," ungkap  dokter forensik yang mengautopsi jasad. (*)


End of content

No more pages to load