Ilustrasi (Ist)

Ilustrasi (Ist)



Tiga kuburan palsu dibuat oleh Ali. Agar makam istri kesayangannya yaitu Fatimah binti Muhammad atau Fatimah az-Zahra, putri bungsu Rasulullah dari istri pertamanya, Khadijah tidak bisa diidentifikasi ataupun dikenal banyak orang.

Hanya Ali dan keluarga terdekat yang mengetahui dimana salah satu wanita kebanggaan Islam yang wafat tanggal 3 Ramadan Tahun 11 Hijriyah disemayamkan.

Perbuatan Ali bin Abu Thalib, suami Fatimah, dicatat dalam Islamic Shi'ite Encyclopedia (1968-1973) karya Hassan Amin. Dimana, dalam paparan Hassan Amin, Ali dengan duka sangat mendalam melakukan beberapa pesan terakhir istrinya sebelum wafat. Bahkan Ali sempat pingsan mendengar kabar kematian istrinya dari kedua anaknya Hasan dan Husein, saat dirinya menunaikan salat berjamaah.

Pasalnya, sebelum Fatimah yang dilahirkan di Mekah, Arab Saudi, lima tahun sebelum Muhammad menerima wahyu pertama sebagai penanda kerasulan, menyatakan kepada Ali, bahwa kematiannya sudah sangat dekat. Saat itu, Fatimah setelah mandi dan mengenakan pakaian baru, berbaring di tempat tidurnya. Ali menangis dengan ucapan istrinya. 

Di momen itulah, Fatimah memberikan beberapa pesan kepada suaminya. Pesan yang ternyata merupakan akhir hidup wanita besar dalam Islam. Wanita yang sejak kecil telah berani menantang dan menghardik orang-orang Quraisy yang berbuat tak patut kepada ayahanda tercintanya.

Ali Syariati dalam Fatimah: The Greatest Woman in Islamic History (2008), menuliskan bahwa pada masa awal kenabian Muhammad sering mendapat perlakukan tak patut dari kaum Quraisy. Salah satunya, saat Muhammad sedang menunaikan ibadah di depan Kakbah. Ketika Muhammad bersujud, datang beberapa orang Quraisy dan menumpahkan kotoran unta di punggungnya sambil tertawa-tawa. Melihat hal tersebut, Fatimah yang saat itu masih seorang gadis kecil segera berlari menuju ke tempat ayahnya. 

Tanpa gentar sedikit pun, Fatimah menghampiri orang-orang Quraisy tersebut dan menghardik mereka. Para lelaki itu pun bergegas pergi lantaran malu. Fatimah membersihkan punggung ayahnya dari kotoran unta sembari menangis. Rasulullah pun berkata, "Jangan menangis, wahai anakku. Sesungguhnya Allah melindungi ayahmu.".

Beberapa pesan terakhir Fatimah yang membuat Ali  menangis, adalah agar jangan bersedih dan supaya menjaga anak-anak mereka. Selain itu Fatimah juga apabila meninggal tidak  ingin dikuburkan dengan upacara pemakaman. 

Hal inilah yang membuat Ali melaksanakan permintaan terakhir istri tercintanya ini. Fatimah dikuburkan secara diam-diam tanpa upacara. Tidak ada warga Madinah yang tahu selain Ali dan keluarga terdekat. Ali juga membuat tiga kuburan palsu supaya makam istrinya tidak dapat diidentifikasi. 

Kematian Fatimah yang disebutkan karena sakit, sempat juga menjadi misteri. Banyak versi penyebab terkait kematian putri bungsu Rasulullah Saw ini. Baik dipicu dengan kesedihannya mendalam setelah ayahandanya wafat. Seperti yang dituturkan oleh Muzaffer Ozak dalam buku Irshad: Wisdom of a Sufi Master (1988). "Setelah Tuan kita [Rasulullah] wafat. Fatimah tidak mau makan atau minum dan ia melupakan semua tawa dan kegembiraan. Ia memiliki rumah yang dibangun untuknya di mana ia tinggal siang dan malam, menangis untuk ayahnya yang tercinta." 

Maupun dikarenakan Fatimah pernah kehilangan anak ketiganya yang keguguran serta di bulan-bulan setelahnya terdapat fase pengucilan bagi Fatimah. Hal ini dituliskan oleh Lesley Hazleton dalam After the Prophet: The Epic Story of the Shia-Sunni Split in Islam (2009) berikut ini: "Mungkin yang paling menyakitkan dari semua itu dalam bulan-bulan setelah kehilangan putra ketiganya adalah pengucilan yang ia derita. [...] Abu Bakar tidak diberitahu tentang kematiannya." 

Seperti diketahui, tidak sedikit referensi meriwayatkan sepeninggal Rasulullah terjadi perselisihan antara Fatimah, juga Ali, dengan Abu Bakar dan Umar terkait siapa yang berhak menjadi pemimpin sebagai penerus Muhammad, juga mengenai hak warisan. 

Tag's Berita

End of content

No more pages to load