Presiden Jokowi sanggupi pembangunan istana presiden di Papua (Ist)

Presiden Jokowi sanggupi pembangunan istana presiden di Papua (Ist)



Rencana memindahkan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Timur (Kaltim) yang sempat membuat heboh seluruh kalangan bulan lalu reda diganti topik lainnya. Pun, adanya berbagai permintaan terkait perpindahan ibu kota seharusnya dan lebih baik di Papua, seperti yang disampaikan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah.

Kini, semua keriuhan tersebut reda. Apalagi dengan adanya rencana pembangunan istana presiden di Jayapura, Papua. Rencana tersebut pun akan ditindaklanjuti dengan survei dan desainnya serta ditarget tahun 2019 ini sudah bisa diselesaikan dan bisa dibangun  tahun depannya.

Rencana pendirian istana presiden di lahan seluas 10 hektare berupa bukit dekat Jembatan Holtekamp, Jayapura, Papua, seperti informasi yang diterima Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, juga ditegaskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di saat menerima para tokoh Papua  di Istana Negara, Jakarta, berapa hari lalu. "Mulai tahun depan istana ini akan dibangun (di Papua, red)," ucap Jokowi.

Rencana pembangunan istana presiden itu mendapat apresiasi Fahri Hamzah yang saat pertama wacana itu mencuat memberikan kritik kerasnya. Kritik yang didasarkan pada pemilihan lokasi ibu kota baru Indonesia yang menurut Fahri seharusnya bukan di wilayah kaya seperti Kaltim tapi wilayah yang mampu mengejawantahkan visi revolusi mental dan poros maritim Jokowi. 

"Beliau punya visi revolusi mental dan poros maritim. Maritim itu basisnya Pasifik. Pasifik itu salah satu negara paling besarnya adalah Papua. Artinya pulau paling besar di Pasifik ini Papua, selain Australia," ujar penggagas Garbi serta Partai Gelora yang akan dideklarasikan Oktober 2019 mendatang.

Walau Kaltim tetap dipilih untuk menjadi ibu kota baru, pernyataan Fahri terkait lokasi Papua dimungkinkan juga diakomodasi oleh Jokowi, selain adanya aspirasi dari para tokoh Papua yang meminta agar Istana kepresidenan dibangun di Papua. 

"Papua sangat penting ada kehadiran fisik. Jadi, dengan dibukanya Istana di Papua itu ya, menurut saya itu kehadiran simbolik yang baik sekali. Bagus sekali," ucap Fahri memberikan apresiasi dan dukungannya kepada Jokowi.

Pernyataan Jokowi terkait kesiapan dan kesanggupannya mengabulkan aspirasi tokoh-tokoh Papua itu pun sempat didiskusikan terlebih dahulu dengan dua menterinya. Yakni, Mensesneg Pratikno dan Menko Polhukam Wiranto saat Jokowi secara langsung diminta untuk hak tersebut oleh para tokoh Papua.

Fahri juga mengatakan pemerintah memang harus mulai memperhatikan kawasan Asia Pasifik. Dan, Papua merupakan representasi Indonesia di kawasan tersebut.

"Kita harus memulai tradisi Asia Pasifik ini. Jadi, dengan adanya rencana pembangunan istana di sana, saya mendukungnya," ujar Fahri.

Walau telah dijanjikan oleh Jokowi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono belum mengetahui status kepemilikan tanah yang nantinya akan disurvei dan dibuatkan desainnya itu. Sehingga Basuki akan terlebih dahulu melakukan survei dan memastikan lahannya sebelum siap dibangun.

"Sebab di Papua ada banyak suku yang kemungkinan menguasai lahan itu. Walau kata mereka sudah oke, kami akan survei dulu," ujarnya.

Untuk lahan tersebut, memang  tokoh Papua bernama Abisai Rolio menyatakan siap menyumbangkan lahan bagi pembangunan istana presiden. "Saya menyumbangkan tanah 10 hektare untuk dibangun istana presiden sehingga perjalanan bapak ke Papua diubah dari berkunjung menjadi berkantor," ucapnya saat berdialog dengan Jokowi.
 

 


End of content

No more pages to load