salah satu siswa melihat fosil manusia purba homo erectus yang dipamerkan di GOR Lembupeteng (Joko Pramono for Jatim Times)
salah satu siswa melihat fosil manusia purba homo erectus yang dipamerkan di GOR Lembupeteng (Joko Pramono for Jatim Times)

Selama 5 hari (24 -28/2/20) di GOR Lembupeteng diadakan pameran fosil yang ditemukan di Sangiran, Solo. Tak hanya fosil homo erectus yang menjadi ikon dari situs Sangiran, di pameran ini juga dipamerkan beberapa fosil hewan purba berusia jutaan tahun.

Penanggung jawab pameran, Wiwit Hermanto menjelaskan beberapa fosil yang dibawanya. Mulai fosil dari hewan laut, mengingat dari kajian arkeologis Sangiran pernah menjadi lautan.

“Kita punya koleksi dari air, dari darat kemudian ada juga koleksi manusia purbanya,” ujar Wiwit.

Sekitar 2,4 juta lalu, Sangiran pernah menjadi daerah lautan. Hal itu dibuktikan dengan ditemukanhya fosil gigi hiu di Sangiran. Selain itu juga ditemukan beberapa fosil kerang laut purba.

Setelah menjadi lautan, sangiran berubah menjadi rawa, dengan ditemukanya fosil buaya jenil galvialis dari situs Sangiran.

Setelah menjadi rawa, Sangiran menjadi daratan dengan bukti ditemukannya fosil kerbau, rahang gajah dan gading gajah.

“Kemudian koleksi dari manusia purba jenis homo erectus, type tipik dan type progresif kita pamerkan di sini,” terang wiwit.

Selain fosil, juga dipamerkan budaya dari manusia purba berupa peralatan untuk berburu dan menguliti hewan buruan.

Untuk berburu, manusia purba menggunakan bola batu yang dilemparkan ke hewan buruan. Sempat disinggung kemungkinan berburu gajah dengan menggunakan batu yang dilempar, Wiwit mengatakan mungkin saja lantaran manusia purba berburu dengan berkelompok, sehingga banyak orang yang melempar batu pada satu hewan buruan.

“Alat serpih misalnya untuk menguliti binatang, berburu menggunakan bola batu dengan dilempar, dan alat potong dari tulang untuk memotong binatang buruan,” terang Wiwit sambil memperagakan memegang alat potong dari tulang.

Sekitar 40 ribu temuan dari situs Sangiran sebagian besar dari masyarakat. Sangiran sendiri juga menyumbang 50 persen lebih temuan fosil untuk manusia purba homo erectus.

Tujuan dari pameran ini adalah untuk mengedukasi masyarakat, terutama bagi siswa setingkat SMP dan SMA. Dengan pameran ini diharapkan masyarakat bisa menghargai temuan cagar budaya yang cukup banyak.

“Ternyata 50 persen temuan homo erectus di dunia ada di Sangiran,” kata Wiwit.

Tulungagung dipilih sebagai lokasi pameran lantaran di kota marmer ini juga ditemukan fosil manusia purba “Homo Wajakensis” di wilayah Wajak, Campurdarat di akhir tahun 1800 an. Sebelumnya juga telah dilakukan pameran di Pacitan.

Sementara itu salah satu pengunjung dari SMAN 1 Pakel, Rita Hayati mengaku memperoleh pengetahuan baru tentang sejarah di Indonesia.  Dirinya bersama teman-teman dan dengan diampingi oleh gurunya melihat langsung koleksi yang dipamerkan.

“Tadi ada fosil manusia purba dan hewan purba,” ujar Rita.

Selain melihat fosil, mereka juga dipertontonkan film dokumentar tentang eskavasi yang dilakukan di situs Sangiran. Pengunjung yang datang tidak dipungut biaya.