Agus Setiawan, Pengusaha muda asal Lumajang yang berbisnis di Jakarta (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)
Agus Setiawan, Pengusaha muda asal Lumajang yang berbisnis di Jakarta (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

Dalam tiga tahun terakhir, sejak tahun 2015, pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian Kabupaten Lumajang terus merosot dan kian mengkhawatirkan. Puncaknya pada tahun 2018, BPS mencatat pertumbuhan sektor pertanian berada di angka -0.3% (minus). 

Hal ini dilihat Agus Setiawan, seorang tokoh pengusaha muda Lumajang Agus Setiawan, sebagai sebuah kondisi yang perlu perhatian serius dari Pemkab Lumajang.

Menurut Agus Setiawan, pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian tercatat sekitar 3 persen. Namun pada tahun 2018, justru merosot pada posisi minus 0,3 persen (-0,3%).

"Saya khawatir, pada tahun 2019 dan tahun ini pertumbuhan itu akan terus menurun, dan ini akan terus  cenderung merosot jika pemerintah tidak segera melalukan intervensi yang positif terhadap sektor pertanian kita," kata Agus Setiawan.

Dalam pandangan Agus Setiawan, ada beberapa sebab yang bisa menjadi pemicu melemahnya pertumbuhan sektor pertanian di Lumajag. Diantaranya, besarnya alih fungsi lahan dari pertanian pangan ke lahan sengon dan perumahan, menurunnya minat generasi muda kepada sektor pertanian, dan bisa jadi karena minimnya insentif dari pemerintah daerah kepada sektor pertanian.

"Gejala ini harus dilihat secara jeli oleh pemerintah. Karena di Kabupaten Lumajang ini mayoritas masyarakatnya hidup dari pertanian. Maka keberhasilan pembangunan sektor pertanian di Lumajang akan sangat membantu peningkatan PDRB Lumajang secara umum," jelas Agus Setiawan kemudian.

Untuk melihat secara jeli persoalan yang ada, sekaligus mengatasinya, Agus Setiawan yang juga seorang pengusaha ini, memandang perlu adanya Dewan Riset Daerah, Tim Agronomi Daerah dan Pusat Logistik Daerah (Buying House) yang dapat langsung berhubungan dengan pasar secara luas.

"Pada masa kampanye kemarin, seingat saya Pak Bupati sering bicara tentang packaging produk pertanian, akan mengantar produk pertanian kepada pasar yang lebih luas, namun rasanya sampai sekarang belum kelihatan usaha ke arah itu. Artinya dulu pertanian dianggap penting, dan sekarang justru kurang perhatian," papar Agus Setiawan lagi.

Disisi lain dalam jangka pendek penting segera dijalankan kebijakan bantuan bibit, bantuan dana berupa pinjaman lunak agar petani bisa membeli pupuk non subsidi ketika kondisi terdesak dan sangat membutuhkan.

"Ada banyak pilihan, salah satu atau sebagian memang penting dilaksnakan, agar pertanian kita tidak makin terpuruk," tegas pria asli Lumajang yang juga owner Biting Mega Wisata Kutorenon.